Ini Tanggapan Pengamat Soal Unicorn Alihkan Dana ke Luar Negeri

Ini Tanggapan Pengamat Soal Unicorn Alihkan Dana ke Luar Negeri

Ini Tanggapan Pengamat Soal Unicorn Alihkan Dana ke Luar Negeri

Ini Tanggapan Pengamat Soal Unicorn Alihkan Dana ke Luar Negeri

Dalam Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Calon Presiden nomor urut 2

, Prabowo Subianto menyatakan kekhawatiran ketika jumlah Unicorn atau startup dengan valuasi di atas USD 1 miliar makin banyak. Menurut Prabowo, uang yang ada di Indonesia akan dialihkan ke luar negeri. Sebab investor mereka mayoritas berasal dari luar negeri.

Terkait statement Prabowo tersebut, Redaksi Selular.ID meminta tanggapan dari sejumlah pengamat seperti Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF dan Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute melalui pesan singkat. Setiap pengamat mengutarakan pendapat masing-masing.

Heru Sutadi sependapat dengan statement Prabowo.

“Saat ini mayoritas Unicorn, kebanyakan memiliki investor dari asing.

Karena membutuhkan modal yang cukup besar. Ini yang mungkin menjadi kekhawatiran Prabowo,” ujar Heru.

Disampaikan Heru, valuasi Unicorn di Indonesia rata-rata mencapai USD 1 miliar atau setara Rp 14 triliun.

“Investasi mereka yang besar saat ini, suatu saat akan dan harus diambil kembali, dengan nilai berlipat. Sebab logikanya, mana ada orang investasi mau rugi. Yang jelas uang investasi bisa kembali dengan keuntungan berlipat,” tegas Heru.

Selain itu, menurut Heru, yang menarik sekarang ini adalah maraknya platform e-commerce. Sejumlah platform e-commerce di Indonesia juga menjadi Unicorn seperti Bukalapak dan Tokopedia.

“Ternyata 90% hingga 93% produk yang dijual di sejumlah platform e-commerce i

tu di impor dari luar negeri. Nah, ini yg perlu diperbaiki ke depannya. Sebab jika tidak, indonesia dapat dikatakan hanya sebagai pasar atau perpanjangan tangan penguasa asing untuk memperluas pasar di Indonesia,” tandas Heru.

Agar ekonomi digital mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 7%, menurut Heru, ekonomi ini harus dibangun sebagai ekonomi kerakyatan.

“Yang penting bagaimana rakyat Indonesia dapat sebesar-besarnya memanfaatkan perkembangan ekonomi digital untuk kesejahteraan rakyat. Tentunya kedepannya masih banyak yang perlu dibenahi,” imbuh Heru.

Sementara Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF mengatakan bahwa Unicorn semuanya rugi. Diprediksikan Berly kerugian masih dialami Unicorn dalam 2 sampai 4 tahun kedepan.

“Jadi, tidak ada keuntungan yang bisa dibawa oleh pihak asing dari sejumlah Unicorn di Indonesia,” ucap Berly.

Senada dengan Heru, Berly juga mengatakan bahwa untuk Unicorn e-commerce ada indikasi kuat bahwa kemudahan beli barang online lebih banyak tingkatkan pembelian barang impor dibanding produk dalam negri.

“Untuk Unicorn travel indikasinya bahwa terjadi peningkatan pembelian tiket pesawat dan hotel diluar negeri seiring dengan yang terjadi di dalam negeri. Tapi tidak akurat untuk Unicorn transportasi online. Karena dana investor luar negeri masuk untuk Gojek yang beroperasi di Indonesia dan beberapa negara ASEAN,” tutup Berly.

 

Sumber :

https://poptype.co/tuponur/review-titanium-backup-pro

 

Wildah

    Comments are closed.