Mencari Keseimbangan dalam Rentetan Perang Dagang

Mencari Keseimbangan dalam Rentetan Perang Dagang

Mencari Keseimbangan dalam Rentetan Perang Dagang

Mencari Keseimbangan dalam Rentetan Perang Dagang

Mencari Keseimbangan dalam Rentetan Perang Dagang

Gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Pepatah lama itu hari-hari ini sangat relevan untuk membaca masa depan ekonomi global. Pertarungan dua negara besar membuat pelemahan ekonomi global terus terkoreksi dalam dua tahun terakhir. Pertengkaran yang belum menemukan titik temu, bahkan terus berlanjut dan eskalasi perang yang terus meluas tidak hanya perdagangan, melainkan menjadi perang mata uang (currency war).

Berawal dari serial tweet Donald Trump yang akan memberikan tambahan tarif 10 persen terhadap impor USD 300 miliar sisa barang dan produk yang berasal dari China. Kebijakan Trump direspons oleh China dengan mendepresiasi mata uang yuan di level 2 persen dari nilai tengah yang ditentukan.

Trump beralasan bahwa China telah melanggar kesepakatan agar membeli produk pertanian AS sehingga dapat mengurangi defisit perdagangan. Membalas kebijakan AS dengan mengenakan tarif baru, China sebenarnya memiliki pilihan kebijakan untuk melawan seperti menjual bond AS di mana China merupakan negara terbesar yang memiliki surat utang AS. China juga memiliki pilihan kebijakan untuk membalas dengan meningkatkan tarif.

Rupanya China lebih memilih untuk melemahkan yuan daripada dua model kebijakan yang tersedia. Bagi China membalas AS dengan tarif selama ini tidak membuat AS melunak bahkan perang dagang terus meluas dan dalam serta Trump terus melakukan kebijakan balasan. Selain itu pilihan menjual bond AS sangat berisiko karena bond AS merupakan surat utang yang paling diminati.

China menganggap perang dagang bukan lagi urusan dengan AS, tetapi ancaman atas mesin ekonomi yang selama ini menopang ekonomi China yaitu industri manufaktur. Perang dagang memungkinkan untuk membuat industri-industri di China merelokasi ke negara-negara Asia lainnya. Dengan menurunkan mata uang yuan membuat China kembali kompetitif untuk bersaing dengan negara-negara industri baru seperti ASEAN terutama Vietnam, Indonesia, Thailand, atau India, Bangladesh, Pakistan

Meskipun demikian menurut catatan Jeffrey Frankel dalam The Currency Manipulation Game (Project Syndicate, 2019), sejak 2004 sampai dengan 2014 –terutama periode sampai 2008– China melakukan intervensi terhadap mata uang yuan agar melemah, tetapi yuan masih terus menguat sebesar 30 persen terhadap dolar.

Lebih lanjut, Jeffrey Frankel menyatakan bahwa China harus menanggung biaya yang besar karena pada 2015 dan 2016, di mana di satu sisi China telah menghabiskan USD 1 triliun untuk mendepresiasi yuan, sedangkan di sisi lain China juga khawatir pelemahan yuan menyebabkan yuan tidak terkontrol dan berakibat pada stabilitas pasar keuangan. Pilihan yang cukup berisiko bagi China sebenarnya, tetapi paling realistis apabila dibandingkan dengan dua pilihan kebijakan di atas yaitu tarif dan bond.

Teori Permainan

Apabila mengacu pada teori permainan, pilihan aksi balasan yang dilakukan oleh China dengan mendepresiasi mata uang sangat rasional. Eric Rasmusen dalam Games and Information: An Introduction to Game Theory (2006) menjelaskan bahwa aksi rasional dari pembuat kebijakan sangat terpengaruh dari apa yang dilakukan oleh pembuat kebijakan lain. Kebijakan balasan China akan sangat terpengaruh dari kebijakan apa yang dilakukan oleh AS.

Lalu, kenapa aksi balasan dalam perang dagang terus berlangsung bahkan terus memburuk? Dalam teori permainan dijelaskan bahwa setiap aktor akan memiliki kemungkinan bekerja sama atau saling berkhianat atau yang disebut dengan dilema tahanan (Prisoner’s Dilemma).

Sederhananya, ketika AS memilih untuk melawan China karena defisit perdagangan, maka China akan membalas dengan aksi serupa kerana dengan demikian akan tercipta situasi pembalasan yang seimbang. Celakanya, untuk menciptakan situasi yang seimbang, game theory menyarankan aksi balasan (tit for tat) harus dilakukan secara berulang-ulang.

Pada situasi awal perang dagang, AS memilih untuk menaikkan tarif atas ekspor China ke AS, dan China membalas serupa dengan menaikkan tarif ekspor AS ke China. Aksi balasan AS pun berlanjut dengan memberlakukan darurat nasional dengan melarang ekspor semikonduktor terutama chip, serta melarang kerja sama perusahaan teknologi AS dengan China. Hasilnya, industri manufaktur China yang tergantung atas suplai chip dan sistem operasi (android) terancam gulung tikar.

China tidak mungkin untuk membalasnya dengan kebijakan serupa

Pilihannya hanya ada pada menjual bond AS dengan risiko AS akan dengan mudah mendapatkan kreditur baru pengganti China, atau mendepresiasi mata uang dengan risiko membebani devisa. Pilihan China untuk memilih melemahkan mata uang sangat rasional karena AS tidak akan dapat membalas kebijakan yang sama, mengingat AS tidak mungkin mengintervensi The Fed untuk mendepresiasi dolar –berbeda dengan China di mana rezim dengan sangat mudah menaikturunkan mata uang dan memiliki keleluasaan untuk menggeser medan pertempuran dari yang sebelumnya perang teknologi (tech war) ke perang mata uang (currency war).

 

Ekonomi Global

Pendulum perang dagang pun terus bergeser dan meluas dalam segala lini. Kerugian terbesar adalah ekonomi global. Apabila perang dagang terus larut dalam kesuraman, maka koreksi atas pertumbuhan ekonomi global akan terus berlanjut. Negara-negara emerging market seperti Indonesia akan mengalami dampaknya. Paling terasa adalah pelemahan harga komoditas, karena China sebagai mesin ekonomi global terus mengalami koreksi. Selain itu, apabila situasi terus memburuk ancaman resesi akan terus menghantui dan yang paling membahayakan adalah efek rentetan perang ekonomi yang memicu perang militer.

Pada situasi kekuatan ekonomi yang unipolar dan hegemonik, risiko yang besar akan susah untuk dilokalisasi, maka mendorong kekuatan-kekuatan negara atau aliansi baru untuk menyeimbangkan arena ekonomi internasional agar multipolar mendesak untuk terus didorong. Yang paling realistis adalah mendorong kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) sebagai kekuatan baru. Memungkinkan, karena secara historis South-South Cooperation merupakan kontekstualisasi Konferensi Asia-Afrika dan Non-Blok. Dan, Indonesia seharusnya memainkan peranan itu.

 

Baca Juga :

Wildah

    Comments are closed.